Istiqomah Setelah Ramadhan
بسم الله الرحمن الرحيم
Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan
Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak
mendapatkan pengampunan dari Allah selama bulan Ramadhan, sebagaimana
yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril dan diamini
oleh Rasulullah : “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan
Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum
diampuni (oleh Allah )”[1].
Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang
tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni
dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya”[2].
Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh
kepada Allah agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh
berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita
kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa
kepada-Nya agar Dia mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam
keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan
ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf)
berdoa kepada Allah (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka
dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam
bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka
(kerjakan)”[3].
Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya:
Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu?
Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar
dari madrasah bulan puasa?
Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan
berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita
kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?
Jawabannya ada pada kisah berikut ini:
Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang
orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan
Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat
buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan
Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan
sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh”[4].
Demi Allah, inilah hamba Allah yang sejati, yang
selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di
waktu dan tempat tertentu.
Imam asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama,
bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu
seorang Rabbani (hamba Allah yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)”[5].
Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan
rahmat Allah di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan
dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua
termasuk dalam firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}
“Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).
Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan
inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab
berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang
hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk
beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka
(ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah untuk
melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan
amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka
itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh
Allah ), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia
dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan
pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”[6].
Oleh karena itulah, Allah mensyariatkan puasa enam
hari di bulan Syawwal, yangkeutamannya sangat besar yaitu menjadikan
puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti
puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah : “Barangsiapa yang
berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa
sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala)
seperti puasa setahun penuh”[7].
Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan
hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri
kepada Allah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka
adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa.
Rasulullah bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua
kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan
ketika dia bertemu Allah”[8].
Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya .
Rasulullah bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai
Allah adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun
sedikit”[9].
Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata: “Rasulullah jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau akan menetapinya”[10].
Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan,
inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah
itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk
orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah
sebaliknya.
{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}
“Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
0 komentar:
Posting Komentar